Sabtu, 14 April 2012

KUCING SI “BINATANG SUCI”



Apa yang terlintas dalam benak jika kita melihat seekor kucing? Lucu, geli, menggemaskan atau menjijikan?. Kabsyah binti Ka’ab bin Malik menceritakan bahwa Abu Qatadah, mertua Kabsyah berkata: “Perhatikanlah! (seekor kucing)”  Abu Qatadah berkata: “ Apakah kamu heran?” ia menjawab, “Ya,” Lalu, Abu Qatadah berkata, bahwa nabi Saw pernah bersabda,”Kucing itu tidak najis, ia binatang yang suka berkeliling di rumah (binatang rumahan),” (H.R Tirmidzi, Al-Nasa’i,  Abu Dawud, dan Ibnu Majah). 
Dalam Bahasa Arab, kucing dinamakan qith, sanur, dhayun, hir, bas (dalam dialek penduduk syam), masy (dalam dialek penduduk Magribi), dan  qathawah (dialeg semenanjung Arab). Menurut seorang pastur, kucing adalah binatang yang bersih karena kegiatan hariannya adalah membersihkan diri, Bahkan, sekitar empat belas abad yang lalu, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa kucing itu adalah suci[1]. Beliau begitu berani mengatakan hal tersebut padahal ketika zaman itu belum ada penelitian. Lalu, bagaimana Rasulullah mengetahui kalau pada badan seekor kucing tidak terdapat najis.

Inilah Faktanya....

Apabila kita perhatikan, hampir di setiap waktu kucing membersihkan dirinya, ia menggunakan lidahnya sebagai alat pembersih yang canggih, dan inilah keistimewaan ciptaan Allah ‘Aza wa Jalla.
Lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing seperti gergaji, benjolan ini mengerucut seperti kikir, lidah dengan permukaan kasar seperti ini bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihakan bulu-bulu di badannya.
Sebagian orang mengira, bahwa lidah kucing yang seperti semacam benjolan ini berfungsi sebagai kantong kecil untuk mempermudah kucing tersebut minum. Akan tetapi, gambaran yang tidak dapat kita ketahui sekarang ternyata tidak sama seperti fungsi lidah biasa.
Sering kali kita melihat, cara seekor kucing ketika minum, ia menggunakan lidah dalam menjilat minuman yang di hadapannya. Kucing menggunakan lidahnya untuk minum dengan membuat perut lidah untuk membawa cairan atau susu dan semisalnya, alhasil, proses seperti ini tidak menyebabkan cairan kembali ke bejana atau tempat minumannya.
Menurut Ensiklopedia Mu’jizat Al-Qur’an dan Hadits jilid lima, menyatakan, hasil penelitian Laboratorium  serta temuan terkait, bahwa seekor kucing tidak memiliki kuman dan Mikroba. Liurnya pun bersih dan membersihkan. Sebuah kesimpulan tersebut adalah berdasarkan penelitian dari kedokteran di rumah sakit Hamdan dan rumah sakit Yaman di Damaskus, ia melakukan pengambilan sample dengan usapan pada berbagai bagian posisi kulit, seperti punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor. Di samping itu, dilakukan juga penanaman kuman pada bagian – bagian khusus, dan diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan mengusap lidah. Hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
ü   Hasil yang diambil dari kulit luar ternyata negatif, (tidak mengandung kuman) meskipun dilakukan berulang-ulang
ü   Perbandingan yang ditanamkan memberikan hasil negatif sekitar 80 % jika dilihat dari cairan yang di ambil dari dinding mulut.
ü   Cairan yang diambil dari permukaan lidah memberikan hasil negatif.
ü   Kuman yang ditemukan saat proses penelitian dilakukan berasal dari kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, steptococus, dan taphylococus. Kuman-kuman tersebut jumlahnya kurang dari 50 ribu pertumbuhan.
ü   Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.

Komentar para dokter terkemuka

Menurut Dr. George Maqshud, ketua laboratorium di rumah sakit hewan Baitharah, jarang sekali ditemukan adanya kuman pada lidah kucing. Jika kuman itu ada maka kucing akan sakit[2].
Dr. Gen Gustafsin  menyatakan bahwa kuman pada kucing terdapat setengah dari kuman manusia, dan kuman yang paling banyak itu terdapat pada seekor anjing, kemudian manusia memiliki seperempat dari anjing[3].
Sa’id Rafah, seorang dokter hewan di rumah sakit di Damaskus menegaskan, bahwa kucing memiliki perangkat pembersih yang bernama Lysozyme[4].

Mengungkap Mu’jizat pada Hadits Nabi Saw...

Diriwayatkan dari Ali bin Al-Hasan, dari Anas yang menceritakan bahwa nabi Saw pergi ke Bathan suatu daerah di Madinah. Lalu beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untuku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkannya ketika sudah selesai, nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu. Nabi ditanya mengenai kejadian terasebut, beliau menjawab: “Ya Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis.”
Diriwayatkan dari Dawud Shalih Al-Tammar dari ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan ‘Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia tiba di rumah ‘Aisyah, ternyata ‘Aisyah sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat dan menaruhnya. Sayangnya, setelah ‘Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa. Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut, lalu ia membersihkan bagian yang disentuh kucing dan ‘Aisyah memakannya. Rasululloh Saw bersabda : “ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliling,” ‘Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari sisa jilatan kucing, (H.R Al-Baihaqi, Abd. Ar-Razzaq dan Al Daruquthni).
Dari hadits-hadits tersebut, jelaslah bahwa ketika nabi mengatakan kucing itu suci lalu berwudhu dengannya, Nabi menunjukan kepada kita tentang sucinya kucing. Bagaimana mungkin Nabi Saw mengetahui bahwa kucing itu tidak najis. Tentunya, semua itu tidak akan terjadi jika ia bukan seorang utusan Allah’aza wa Jalla yang tidak pernah berbicara menggunakan nafsu. Allah berfirman dalam Q.S Al-Najm: 3-4 yang artinya : “Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
***


[1] Kemukjizatan Penciptaan Hewan- Ensiklopedia Mukjizat Al-Qur’an dan Hadits 5. Hisham Thalbah (et.al). hal.14.
[2] Ibid. hal.16.
[3] Ibid. hal. 17
[4] Ibid. hal.17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar