Qalbuku bergetar, tubuhku
berdesir selepas membaca buku “Ada Surga
di Tapak Kaki Ibu” karangan Mokh.
Syaiful Bakhri, begitu banyak kisah mengukir makna berharga betapa hebatnya
orang tua yang jasanya tak pernah ternilai walau sebesar buih di lautan.
Salah satu kisah yang buatku takjub adalah kisah Bayazid yang di ambil
dari kitab Tadzkiratul Aulia dan di kutip M. Ebrahim Khan. Bayazid
adalah salah seorang anak semata wayang
seorang janda miskin, ia satu-satunya nafas kehidupan bagi ibunya. Ia juga anak
yang sudah tak bisa di pungkiri lagi kecerdasannya, sampai pada akhirnya ibu
Bayazid menyekolahkannya di sebuah madrasah, kecerdasan dan ketekunannya pun
menghasilkan kemajuan pesat dalam belajarnya.
Suatu ketika Bayazid
membaca Al-Qur’an lalu, sampailah ia pada Q.S Luqman ayat 14 yang artinya :
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-
bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah,
dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.
Ia
mengulang-ngulang ayat tersebut serta merenungkannya, tak lama kemudian ia
menutup mushafnya lantas bergegas pamit izin untuk pulang. Kepulangan Bayazid
sekonyong-konyong mengejutkan ibunya.
“ Ada
apa kau nak? Kamu tidak Madrasah hari ini? Atau kau membawakan makanan untuk
ku?”.
“Tidak
Bu. Aku mendadak pulang bukan karena itu semua, aku baru saja membaca
Al-Qur’an. “Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu!," Ayat ini membuatku sangat gelisah. Kekuatanku
juga tiba-tiba menghilang. Bagaimana aku bisa berbakti kepada dua objek
sekaligus dengan segala kelemahanku ini? Mengabdi kepada ibu, atau mengabdi
kepada Allah bagiku sama saja” Tutur Bayazid, Ibu Bayazid sangat terharu
mendengar pernyataan anaknya, dengan dekapan sayang sang ibu berkata:
“Anaku,
aku telah menyerahkan dirimu untuk mengabdi kepada Allah dan aku melepaskan
semua hak-hakku atas dirimu.” Betapa gembiranya Bayazid mendengar pernyataan
ibunya, perasaan galau yang ia pikirkanpun berbuah ketenangan, ia tak lagi
bingung memilih mengabdi kepada Allah atau mengabdi pada Ibunya.
Bumi
terus berputar pada porosnya, Bayazid tengah sukses dengan berbagai cabang
ilmu, dengan memohon restu kembali pada orang tua, Bayazid meneruskan studinya
ke Bagdad selama beberapa tahun.
Pengembaraannya masih belum terpuaskan juga akhirnya ia memutuskan untuk
meninggalkan ibu kota
Irak untuk melanglang buana mencari guru spiritual. Singkat cerita, setelah
tiga puluh tahun Bayazid mencari ilmu ia di perintahkan Imam Ja’far Ash-Shadiq
sebagai guru spiritualnya yang pertama.
“Sekarang tiba saatnya kamu mengabdi kepada
ibumu,” Seruan gurunya itu di sambut oleh Bayazid. Menuju rumah ibunya, Bayazid
menyelinap masuk ke kampung halamanya tanpa di dampingi oleh siapapun. Ketika
itu, popularitas Bayazid sudah tersebar luas, oleh karenanya jika orang-orang
tahu akan kepulangan Bayazid maka ia akan menjadi pusat perhatian. Sebelum
mengetuk pintu Bayazid mendengar suara ibunya yang tengah menengadah pada sang
Khaliq, “ Ya Allah Yang Maha Kuasa. Aku telah mengabdikan dirimu dijalan-Mu.
Kepada-Mu jugalah aku memohon agar Engkau mencintainya dan memperhatikan
kesejahreraannya.” Tanpa sengaja butiran-butiran bening mengalir deras di
pelupuk mata hingga isak tangis Bayazid terdengar oleh ibunya.
“Apakah kamu sudah pulang, Nak?” Tutur Ibu
Bayazid
“
Iya Bu, ini aku Bayazid sudah pulang,.. ” Jawab Bayazid parau. Ketika pintu
dibuka Bayazid segera bersujud tersimpuh pada ibunya. Sang ibu mendekap Bayazid
penuh kerinduan lalu mengelus lembut selira anaknya, terhentilah sentuhan kedua
tangan lembut itu pada kedua pipinya.
“Aku
sangat mendambakan bisa melihat wajahmu lagi, tetapi kamu terlambat pulang.
Sayangku, aku sudah tidak bisa melihat lagi,” Tutur ibu Bayazid dengan haru.
Sejak
kepulangannya itu, Bayazid menghidmatkan diri untuk senantiasa berbakti pada
ibunya. Bahkan ketika ibunya telah wafat ia tak pernah meninggalkan rumahnya
lagi.
Keberhasilan
Bayazid dalam mencari ilmu membuktikan pada dunia betapa pentingnya keridhaan
orangtua, do’anya bagaikan air yang senantiasa mengalir sepanjang hidupnya.
Namun tak lepas hanya sebatas ridha, ia melupakan satu hal, cintanya ia pada
ilmu nyaris melupakan keadaan ibunya yang tinggal sebatangkara.
Hal ini di riset ulang dari berbagai
kisah-kisah lain, baik berupa legenda maupun kisah nyata, dalam kitab Irsyadul’Ibad
yang di tulis oleh Syekh Zaenuddin
bin Abdul Ajiz bin Zaenuddin Al-Malibari, terkenal dengan sebutan Syekh
Malibari yang juga mengarang
kitab Fathul Mu’in. Dikisahkan, ada seorang pemuda yang nyaris sama
dengan sesosok Bayazid, ia sangat terkenal dengan kecerdasan dan keshalehannya.
Ia pun mengembara puluhan tahun, berjuang di jalan Allah untuk menuntut ilmu
dan meninggalkan orangtuanya. Sampai suatu ketika, tibalah saatnya pemuda yang
sudah menjadi syekh itu kembali pada kampung halamnnya. Ibunya begitu gembira
menyambut kedatangan sang anak yang senantiasa dirindukannya.
Belum
saja rasa rindu itu terpuaskan, syekh tersebut ingin menunaikan ibadah haji, dorongan ibadah inipun didasari motivasi gurunya, padahal ibu syekh tersebut
tidak merestui kepergiannya, ia merasa berat berpisah dengan putranya, rasa
kecewa pun mnyelimuti sang ibu hingga ia berdo’a :
“
Ya Allah aku pasrahkan anaku padamu, ia telah memanaskan hatiku dengan api
perpisahan, berilah pelajaran yang berharga untuknya.”
Di
suatu malam, Syekh sampai pada setengah perjalanan sampailah ia pada sebuah
surau, mengingat hari semakin larut ia segera menunaikan shalat dengan penuh
kekhusuan. Bersamaan dengan hal itu, seorang pencuri sedang melaksanakan
aksinya di sebuah rumah yang tak jauh dari surau, sebut saja rumah milik Pak
Jamal.
Pencuri
itu menyelinap dalam diam, dengan ekstra hati-hati ia membuka pintu rumah Pak
Jamal, sang pencuri memasukan barang-barang berharga ke dalam karung yang sudah
ia siapkan, tiba-tiba saja si pemilik rumah terbangun, ia merasakan keganjilan
dalam rumahnya. Ternyata, firasatnya benar, telah terjadi sesuatu dalam rumahnya,
“siapa itu?..!” Ujar si pemilik rumah melihat seseorang tak dikenal
menyelinap dalam rumahnya, namun sayangnya si pencuri berhasil kabur dengan
karung berisi barang jarahannya. Pak Jamalpun tak berhenti sampai di situ,
dengan sigap Pak Jamal mengejar pencuri itu dengan berseru.. “Ada pencuri…!, Toloong…!” Terang saja
masyarakat sekitar berhamburan, sepenglihatan Pa Jamal pencuri tersebut
memasuki surau, puluhan masyarakatpun menuju surau yang di dalamnya hanya ada
seorang pemuda sedang hanyut dalam peribadatan penuh kekhusuan. Masyarakat
berfikir itu adalah pencuri yang sengaja bersandiwara untuk mengelabui mereka.
Sampai pada akhirnya ia terkena fitnah mencuri, kedua tangan dan kakinya di
potong, lalu matanyapun tercungkil karena ia tak mau mengakui dirinya sebagai
pencuri. Ketika keadaannya tak lagi berdaya, seorang ustadz setempat datang dan
mencegah masyarakat untuk tidak menghakiminya lagi, “Siapa kau sebenarnya?”
ujar ustadz itu, pemuda itu menjawab dengan gontai “Aku ini bukan pencuri! aku hanyalah seorang
hamba yang terkena hisab karena pergi meninggalkan ibu yang tak merestuiku
untuk pergi ke Baitullah.” Terang saja orang-orang di sekitarnya terperanjat,
mereka tersadar bahwa ia bukanlah sang pencuri, ia adalah seorang yang ahli
dalam ibadah, hal ini pun diperkuat dengan pernyataan sang ustadz bahwa pemuda tersebut adalah muridnya dahulu, Masyarakat dan pemilik rumah yang menjadi korbanpun memohon maaf,
dan mereka mengantarkan pemuda tersebut sampai depan pintu rumahnya.
Bersamaan
dengan hal itu sang ibu begitu merindukan putranya yang baru saja bertemu dalam
sekejap mata, ia merintih dalam pengaduanNya, “Ya Allah, jika Engkau telah
memberikan cobaan kepadanya, maka kembalikanlah dia kepadaku, hingga aku dapat
melihatnya.”. Tak lama kemudian terdengarlah suara ketukan pintu.
“Siapa
di luar sana?”
ujar wanita sebatangkara itu cemas,
“Aku
adalah seorang musafir yang kelaparan, berilah aku makan,” Ujar suara dari luar
pintu.
“Ya,
Sebentar masuklah dulu,” katanya lagi
“Kakiku
buntung,”
“Kalau
begitu ulurkan tanganmu,”
“Tanganku
juga buntung,” Bertambah cemaslah perasaan sang ibu siapa sebenarnya diluar sana, ia sangat khawatir,
ada orang jahat yang mengintainya.
“Maaf
kamu bukan mahram tak sepantasnya jika aku menemuimu,”
“Tenang
saja ibu, mataku buta, jadi aku tak bisa melihat kecantikan wajahmu”. Dengan
keberanian yang tak pasti akhirnya wanita tersebut membawakan roti dan segelas
air lalu meberikan kepadanya, baru saja ia membukakan pintu pemuda tersebut
bersimpuh di atas kedua lututnya,
“Aku
adalah anakmu, yang melanggar kehendakmu, maafkanlah aku..” linangan air mata
tiba-tiba saja membendung di bola mata keduanya, wanita tersebutpun berdo’a :
“Ya
Allah, Jika ku tahu akan terjadi seperti ini, cabutlah nyawaku dan anaku, kami
tak ingin orang-orang melihat kami dengan diliputi rasa malu..” kemudian belum
usai wanita itu berujar, wafatlah keduanya, Allah Swt telah mengijab do’a sang
ibu.
Maha
suci Allah atas segala firmanNya, Di jelaskan dalam Tafsir
Al-Misbah yang ditulis M. Quraish Shihab Perintah syukur kepada orang tua
merupakan sarana kebahagiaan di dunia maupun diakhirat, dan makna Bersyukurlah
kamu kepada orang tuamu adalah kepada keduanya Ayah dan Ibu, karena mereka
yang di jadikan Allah sebagai perantara kehadiran kita dalam pentas bumi ini.
Kesyukuran ini mutlak kita lakukan karena Hanya kepada Allah-lah – tidak
kepada selain Allah – kembali kamu semua wahai manusia, untuk di
pertanggungjawabkan kesyukuran itu.
Lalu,
kenapa dua kisah di atas semuanya mengarah kepada ibu? Di mana posisi ayah?.
Dalam kitab “Wabil Waa Lidaini Ihsana” yang di buat khusus oleh Ustadz
Abdul Halim Al-Qorny untuk para santrinya di Ma’had Al-Hikmah An-Najiyah, tercantum
Q.S Al-Ahqaf:15: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada
dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan
melahirkannya dengan susah payah pula….” Dalam bahasannya beliau
menyatakan, ayah adalah seseorang yang terlibat dalam proses kejadiannya, ia
mencampakkan sperma ke dalam rahim ibunya, dan kemudian sang ibu mengandungnya
dalam keadaan susah payah yang bertambah-tambah mulai dari mengidam, berbagai
aneka gangguan fisik dan psikis kemudian memperjuangkan antara hidup dan mati
ketika melahirkan, menyusui dan menyapihnya.
Qurais
Shihab menfsirkan ayat ini, manusia di haruskan berbakti kepada kedua orang
tuannya pernyataan ini di perkuat dengan lafadz “Al-Walidain” yakni
kedua orang tua yang kedudukannya sebagai ibu- bapak, betapapun keadaan mereka.
Hal tersebut pula yang menyebabkan Al-Qur’an mewasiatkan untuk berbuat baik
kepada keduanya, bagaimanapun keadaannya. Hal ini sangat berkaitan deng Q.S
Luqman :14-15.
Orang
Tua adalah tumpuan harapan bagi anak-anaknya, ia pederma ulung yang senatiasa
mengasihi tanpa pamrih, ia yang senantiasa memberi pupuk-pupuk mujarab hingga
kita tumbuh dan kuat menopang angin badai dari segala arah.
Dalam
kisah Bayazid & seorang pemuda sholeh adalah hanya bagian kecil dari ribuan
kisah nyata lainnya yang sering kita lihat di jaman dahulu maupun jaman
sekarang, banyak ibrah yang dapat kita petik sarinya, betapa penting
menimbulkan rasa penghormatan, bakti dan mahabbah kita pada kedua orangtua
khususnya ibu yang mengandung, melahirkan dalam keadaan susah payah yang
bertambah-tambah.
Cibinong, 10 September 2011
- DiZa Nur Salamah -
|
Rabu, 21 Maret 2012
PEDERMA ULUNG
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mba Dini (n n), postingan yang menarik!
BalasHapusSyukron mb Lia, ini an msih belajar ngutak-ngatik..
Hapus