Rabu, 21 Maret 2012

PEDERMA ULUNG



Qalbuku bergetar, tubuhku berdesir  selepas membaca buku “Ada Surga di Tapak Kaki Ibu”  karangan Mokh. Syaiful Bakhri, begitu banyak kisah mengukir makna berharga betapa hebatnya orang tua yang jasanya tak pernah ternilai walau sebesar buih di lautan.
Salah satu kisah yang buatku takjub adalah kisah Bayazid yang di ambil dari kitab Tadzkiratul Aulia dan di kutip M. Ebrahim Khan. Bayazid adalah  salah seorang anak semata wayang seorang janda miskin, ia satu-satunya nafas kehidupan bagi ibunya. Ia juga anak yang sudah tak bisa di pungkiri lagi kecerdasannya, sampai pada akhirnya ibu Bayazid menyekolahkannya di sebuah madrasah, kecerdasan dan ketekunannya pun menghasilkan kemajuan pesat dalam belajarnya.
Suatu ketika Bayazid membaca Al-Qur’an lalu, sampailah ia pada Q.S Luqman ayat 14 yang artinya :
 “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.
Ia mengulang-ngulang ayat tersebut serta merenungkannya, tak lama kemudian ia menutup mushafnya lantas bergegas pamit izin untuk pulang. Kepulangan Bayazid sekonyong-konyong  mengejutkan ibunya.
 “ Ada apa kau nak? Kamu tidak Madrasah hari ini? Atau kau membawakan makanan untuk ku?”.   
“Tidak Bu. Aku mendadak pulang bukan karena itu semua, aku baru saja membaca Al-Qur’an. “Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu!," Ayat ini membuatku sangat gelisah. Kekuatanku juga tiba-tiba menghilang. Bagaimana aku bisa berbakti kepada dua objek sekaligus dengan segala kelemahanku ini? Mengabdi kepada ibu, atau mengabdi kepada Allah bagiku sama saja” Tutur Bayazid, Ibu Bayazid sangat terharu mendengar pernyataan anaknya, dengan dekapan sayang sang ibu berkata:  
“Anaku, aku telah menyerahkan dirimu untuk mengabdi kepada Allah dan aku melepaskan semua hak-hakku atas dirimu.” Betapa gembiranya Bayazid mendengar pernyataan ibunya, perasaan galau yang ia pikirkanpun berbuah ketenangan, ia tak lagi bingung memilih mengabdi kepada Allah atau mengabdi pada Ibunya.
Bumi terus berputar pada porosnya, Bayazid tengah sukses dengan berbagai cabang ilmu, dengan memohon restu kembali pada orang tua, Bayazid meneruskan studinya ke Bagdad selama beberapa tahun. Pengembaraannya masih belum terpuaskan juga akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan ibu kota Irak untuk melanglang buana mencari guru spiritual. Singkat cerita, setelah tiga puluh tahun Bayazid mencari ilmu ia di perintahkan Imam Ja’far Ash-Shadiq sebagai guru spiritualnya yang pertama.
 “Sekarang tiba saatnya kamu mengabdi kepada ibumu,” Seruan gurunya itu di sambut oleh Bayazid. Menuju rumah ibunya, Bayazid menyelinap masuk ke kampung halamanya tanpa di dampingi oleh siapapun. Ketika itu, popularitas Bayazid sudah tersebar luas, oleh karenanya jika orang-orang tahu akan kepulangan Bayazid maka ia akan menjadi pusat perhatian. Sebelum mengetuk pintu Bayazid mendengar suara ibunya yang tengah menengadah pada sang Khaliq, “ Ya Allah Yang Maha Kuasa. Aku telah mengabdikan dirimu dijalan-Mu. Kepada-Mu jugalah aku memohon agar Engkau mencintainya dan memperhatikan kesejahreraannya.” Tanpa sengaja butiran-butiran bening mengalir deras di pelupuk mata hingga isak tangis Bayazid terdengar oleh ibunya.
 “Apakah kamu sudah pulang, Nak?” Tutur Ibu Bayazid
“ Iya Bu, ini aku Bayazid sudah pulang,.. ” Jawab Bayazid parau. Ketika pintu dibuka Bayazid segera bersujud tersimpuh pada ibunya. Sang ibu mendekap Bayazid penuh kerinduan lalu mengelus lembut selira anaknya, terhentilah sentuhan kedua tangan lembut itu pada kedua pipinya.
“Aku sangat mendambakan bisa melihat wajahmu lagi, tetapi kamu terlambat pulang. Sayangku, aku sudah tidak bisa melihat lagi,” Tutur ibu Bayazid dengan haru.
Sejak kepulangannya itu, Bayazid menghidmatkan diri untuk senantiasa berbakti pada ibunya. Bahkan ketika ibunya telah wafat ia tak pernah meninggalkan rumahnya lagi.
Keberhasilan Bayazid dalam mencari ilmu membuktikan pada dunia betapa pentingnya keridhaan orangtua, do’anya bagaikan air yang senantiasa mengalir sepanjang hidupnya. Namun tak lepas hanya sebatas ridha, ia melupakan satu hal, cintanya ia pada ilmu nyaris melupakan keadaan ibunya yang tinggal sebatangkara.
 Hal ini di riset ulang dari berbagai kisah-kisah lain, baik berupa legenda maupun kisah nyata, dalam kitab Irsyadul’Ibad  yang di tulis oleh Syekh Zaenuddin bin Abdul Ajiz bin Zaenuddin Al-Malibari, terkenal dengan sebutan Syekh Malibari yang juga mengarang kitab Fathul Mu’in. Dikisahkan, ada seorang pemuda yang nyaris sama dengan sesosok Bayazid, ia sangat terkenal dengan kecerdasan dan keshalehannya. Ia pun mengembara puluhan tahun, berjuang di jalan Allah untuk menuntut ilmu dan meninggalkan orangtuanya. Sampai suatu ketika, tibalah saatnya pemuda yang sudah menjadi syekh itu kembali pada kampung halamnnya. Ibunya begitu gembira menyambut kedatangan sang anak yang senantiasa dirindukannya. 
Belum saja rasa rindu itu terpuaskan, syekh tersebut ingin menunaikan ibadah haji, dorongan ibadah inipun didasari motivasi gurunya, padahal ibu syekh tersebut tidak merestui kepergiannya, ia merasa berat berpisah dengan putranya, rasa kecewa pun mnyelimuti sang ibu hingga ia berdo’a :
“ Ya Allah aku pasrahkan anaku padamu, ia telah memanaskan hatiku dengan api perpisahan, berilah pelajaran yang berharga untuknya.” 
Di suatu malam, Syekh sampai pada setengah perjalanan sampailah ia pada sebuah surau, mengingat hari semakin larut ia segera menunaikan shalat dengan penuh kekhusuan. Bersamaan dengan hal itu, seorang pencuri sedang melaksanakan aksinya di sebuah rumah yang tak jauh dari surau, sebut saja  rumah milik Pak Jamal.  
Pencuri itu menyelinap dalam diam, dengan ekstra hati-hati ia membuka pintu rumah Pak Jamal, sang pencuri memasukan barang-barang berharga ke dalam karung yang sudah ia siapkan, tiba-tiba saja si pemilik rumah terbangun, ia merasakan keganjilan dalam rumahnya. Ternyata, firasatnya benar, telah terjadi sesuatu dalam rumahnya, “siapa itu?..!” Ujar si pemilik rumah melihat seseorang tak dikenal menyelinap dalam rumahnya, namun sayangnya si pencuri berhasil kabur dengan karung berisi barang jarahannya. Pak Jamalpun tak berhenti sampai di situ, dengan sigap Pak Jamal mengejar pencuri itu dengan berseru.. “Ada pencuri…!, Toloong…!” Terang saja masyarakat sekitar berhamburan, sepenglihatan Pa Jamal pencuri tersebut memasuki surau, puluhan masyarakatpun menuju surau yang di dalamnya hanya ada seorang pemuda sedang hanyut dalam peribadatan penuh kekhusuan. Masyarakat berfikir itu adalah pencuri yang sengaja bersandiwara untuk mengelabui mereka. Sampai pada akhirnya ia terkena fitnah mencuri, kedua tangan dan kakinya di potong, lalu matanyapun tercungkil karena ia tak mau mengakui dirinya sebagai pencuri. Ketika keadaannya tak lagi berdaya, seorang ustadz setempat datang dan mencegah masyarakat untuk tidak menghakiminya lagi, “Siapa kau sebenarnya?” ujar ustadz itu, pemuda itu menjawab dengan gontai  “Aku ini bukan pencuri! aku hanyalah seorang hamba yang terkena hisab karena pergi meninggalkan ibu yang tak merestuiku untuk pergi ke Baitullah.” Terang saja orang-orang di sekitarnya terperanjat, mereka tersadar bahwa ia bukanlah sang pencuri, ia adalah seorang yang ahli dalam ibadah, hal ini pun diperkuat dengan pernyataan sang ustadz bahwa pemuda tersebut adalah muridnya dahulu, Masyarakat dan pemilik rumah yang menjadi korbanpun memohon maaf, dan mereka mengantarkan pemuda tersebut sampai depan pintu rumahnya.
Bersamaan dengan hal itu sang ibu begitu merindukan putranya yang baru saja bertemu dalam sekejap mata, ia merintih dalam pengaduanNya, “Ya Allah, jika Engkau telah memberikan cobaan kepadanya, maka kembalikanlah dia kepadaku, hingga aku dapat melihatnya.”. Tak lama kemudian terdengarlah suara ketukan pintu.
“Siapa di luar sana?” ujar wanita sebatangkara itu cemas,
“Aku adalah seorang musafir yang kelaparan, berilah aku makan,” Ujar suara dari luar pintu.
“Ya, Sebentar masuklah dulu,” katanya lagi
“Kakiku buntung,”
“Kalau begitu ulurkan tanganmu,” 
“Tanganku juga buntung,” Bertambah cemaslah perasaan sang ibu siapa sebenarnya diluar sana, ia sangat khawatir, ada orang jahat yang mengintainya.
“Maaf kamu bukan mahram tak sepantasnya jika aku menemuimu,”
“Tenang saja ibu, mataku buta, jadi aku tak bisa melihat kecantikan wajahmu”. Dengan keberanian yang tak pasti akhirnya wanita tersebut membawakan roti dan segelas air lalu meberikan kepadanya, baru saja ia membukakan pintu pemuda tersebut bersimpuh di atas kedua lututnya,  
“Aku adalah anakmu, yang melanggar kehendakmu, maafkanlah aku..” linangan air mata tiba-tiba saja membendung di bola mata keduanya, wanita tersebutpun berdo’a :
“Ya Allah, Jika ku tahu akan terjadi seperti ini, cabutlah nyawaku dan anaku, kami tak ingin orang-orang melihat kami dengan diliputi rasa malu..” kemudian belum usai wanita itu berujar, wafatlah keduanya, Allah Swt telah mengijab do’a sang ibu. 
Maha suci Allah atas segala firmanNya, Di jelaskan dalam Tafsir Al-Misbah yang ditulis M. Quraish Shihab Perintah syukur kepada orang tua merupakan sarana kebahagiaan di dunia maupun diakhirat, dan makna Bersyukurlah kamu kepada orang tuamu adalah kepada keduanya Ayah dan Ibu, karena mereka yang di jadikan Allah sebagai perantara kehadiran kita dalam pentas bumi ini. Kesyukuran ini mutlak kita lakukan karena Hanya kepada Allah-lah – tidak kepada selain Allah – kembali kamu semua wahai manusia, untuk di pertanggungjawabkan kesyukuran itu.  
Lalu, kenapa dua kisah di atas semuanya mengarah kepada ibu? Di mana posisi ayah?. Dalam kitab “Wabil Waa Lidaini Ihsana” yang di buat khusus oleh Ustadz Abdul Halim Al-Qorny untuk para santrinya di Ma’had Al-Hikmah An-Najiyah, tercantum Q.S Al-Ahqaf:15: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula….” Dalam bahasannya beliau menyatakan, ayah adalah seseorang yang terlibat dalam proses kejadiannya, ia mencampakkan sperma ke dalam rahim ibunya, dan kemudian sang ibu mengandungnya dalam keadaan susah payah yang bertambah-tambah mulai dari mengidam, berbagai aneka gangguan fisik dan psikis kemudian memperjuangkan antara hidup dan mati ketika melahirkan, menyusui dan menyapihnya.
Qurais Shihab menfsirkan ayat ini, manusia di haruskan berbakti kepada kedua orang tuannya pernyataan ini di perkuat dengan lafadz “Al-Walidain” yakni kedua orang tua yang kedudukannya sebagai ibu- bapak, betapapun keadaan mereka. Hal tersebut pula yang menyebabkan Al-Qur’an mewasiatkan untuk berbuat baik kepada keduanya, bagaimanapun keadaannya. Hal ini sangat berkaitan deng Q.S Luqman :14-15. 
Orang Tua adalah tumpuan harapan bagi anak-anaknya, ia pederma ulung yang senatiasa mengasihi tanpa pamrih, ia yang senantiasa memberi pupuk-pupuk mujarab hingga kita tumbuh dan kuat menopang angin badai dari segala arah.
Dalam kisah Bayazid & seorang pemuda sholeh adalah hanya bagian kecil dari ribuan kisah nyata lainnya yang sering kita lihat di jaman dahulu maupun jaman sekarang, banyak ibrah yang dapat kita petik sarinya, betapa penting menimbulkan rasa penghormatan, bakti dan mahabbah kita pada kedua orangtua khususnya ibu yang mengandung, melahirkan dalam keadaan susah payah yang bertambah-tambah.

Cibinong, 10 September 2011
- DiZa Nur Salamah -