Apa
yang terlintas dalam benak jika kita melihat seekor kucing? Lucu, geli,
menggemaskan atau menjijikan?. Kabsyah binti Ka’ab bin Malik menceritakan bahwa
Abu Qatadah, mertua Kabsyah berkata: “Perhatikanlah! (seekor kucing)” Abu Qatadah berkata: “ Apakah kamu heran?” ia
menjawab, “Ya,” Lalu, Abu Qatadah berkata, bahwa nabi Saw pernah
bersabda,”Kucing itu tidak najis, ia binatang yang suka berkeliling di rumah
(binatang rumahan),” (H.R Tirmidzi, Al-Nasa’i,
Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Dalam
Bahasa Arab, kucing dinamakan qith, sanur,
dhayun, hir, bas (dalam dialek penduduk syam), masy (dalam dialek penduduk
Magribi), dan qathawah (dialeg
semenanjung Arab). Menurut seorang pastur, kucing adalah binatang yang bersih
karena kegiatan hariannya adalah membersihkan diri, Bahkan, sekitar empat belas
abad yang lalu, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa kucing itu adalah suci[1].
Beliau begitu berani mengatakan hal tersebut padahal ketika zaman itu belum ada
penelitian. Lalu, bagaimana Rasulullah mengetahui kalau pada badan seekor
kucing tidak terdapat najis.
Inilah Faktanya....
Apabila
kita perhatikan, hampir di setiap waktu kucing membersihkan dirinya, ia
menggunakan lidahnya sebagai alat pembersih yang canggih, dan inilah
keistimewaan ciptaan Allah ‘Aza wa Jalla.
Lidah
kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing seperti gergaji,
benjolan ini mengerucut seperti kikir, lidah dengan permukaan kasar seperti ini
bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihakan bulu-bulu di badannya.
Sebagian
orang mengira, bahwa lidah kucing yang seperti semacam benjolan ini berfungsi
sebagai kantong kecil untuk mempermudah kucing tersebut minum. Akan tetapi,
gambaran yang tidak dapat kita ketahui sekarang ternyata tidak sama seperti
fungsi lidah biasa.
Sering
kali kita melihat, cara seekor kucing ketika minum, ia menggunakan lidah dalam
menjilat minuman yang di hadapannya. Kucing menggunakan lidahnya untuk minum
dengan membuat perut lidah untuk membawa cairan atau susu dan semisalnya,
alhasil, proses seperti ini tidak menyebabkan cairan kembali ke bejana atau
tempat minumannya.
Menurut
Ensiklopedia Mu’jizat Al-Qur’an dan Hadits jilid lima, menyatakan, hasil
penelitian Laboratorium serta temuan
terkait, bahwa seekor kucing tidak memiliki kuman dan Mikroba. Liurnya pun
bersih dan membersihkan. Sebuah kesimpulan tersebut adalah berdasarkan
penelitian dari kedokteran di rumah sakit Hamdan dan rumah sakit Yaman di
Damaskus, ia melakukan pengambilan sample dengan usapan pada berbagai bagian
posisi kulit, seperti punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan
ekor. Di samping itu, dilakukan juga penanaman kuman pada bagian – bagian
khusus, dan diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan
mengusap lidah. Hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
ü Hasil yang diambil dari kulit luar
ternyata negatif, (tidak mengandung kuman) meskipun dilakukan berulang-ulang
ü Perbandingan yang ditanamkan memberikan
hasil negatif sekitar 80 % jika dilihat dari cairan yang di ambil dari dinding
mulut.
ü Cairan yang diambil dari permukaan lidah
memberikan hasil negatif.
ü Kuman yang ditemukan saat proses
penelitian dilakukan berasal dari kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman
biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti,
enterobacter, steptococus, dan taphylococus. Kuman-kuman tersebut jumlahnya
kurang dari 50 ribu pertumbuhan.
ü Tidak ditemukan kelompok kuman yang
beragam.
Komentar para dokter
terkemuka
Menurut
Dr. George Maqshud, ketua laboratorium di rumah sakit hewan Baitharah, jarang
sekali ditemukan adanya kuman pada lidah kucing. Jika kuman itu ada maka kucing
akan sakit[2].
Dr.
Gen Gustafsin menyatakan bahwa kuman
pada kucing terdapat setengah dari kuman manusia, dan kuman yang paling banyak
itu terdapat pada seekor anjing, kemudian manusia memiliki seperempat dari
anjing[3].
Sa’id
Rafah, seorang dokter hewan di rumah sakit di Damaskus menegaskan, bahwa kucing
memiliki perangkat pembersih yang bernama Lysozyme[4].
Mengungkap Mu’jizat
pada Hadits Nabi Saw...
Diriwayatkan
dari Ali bin Al-Hasan, dari Anas yang menceritakan bahwa nabi Saw pergi ke
Bathan suatu daerah di Madinah. Lalu beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air
wudhu untuku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkannya ketika sudah selesai,
nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat
itu, nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu. Nabi
ditanya mengenai kejadian terasebut, beliau menjawab: “Ya Anas, kucing termasuk
perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis.”
Diriwayatkan
dari Dawud Shalih Al-Tammar dari ibunya yang menerangkan bahwa budaknya
memberikan ‘Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia tiba di rumah ‘Aisyah,
ternyata ‘Aisyah sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat dan menaruhnya.
Sayangnya, setelah ‘Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa. Datanglah seekor
kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut,
lalu ia membersihkan bagian yang disentuh kucing dan ‘Aisyah memakannya. Rasululloh
Saw bersabda : “ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliling,” ‘Aisyah pernah
melihat Rasulullah Saw berwudhu dari sisa jilatan kucing, (H.R Al-Baihaqi, Abd.
Ar-Razzaq dan Al Daruquthni).
Dari
hadits-hadits tersebut, jelaslah bahwa ketika nabi mengatakan kucing itu suci
lalu berwudhu dengannya, Nabi menunjukan kepada kita tentang sucinya kucing.
Bagaimana mungkin Nabi Saw mengetahui bahwa kucing itu tidak najis. Tentunya,
semua itu tidak akan terjadi jika ia bukan seorang utusan Allah’aza wa Jalla yang
tidak pernah berbicara menggunakan nafsu. Allah berfirman dalam Q.S Al-Najm: 3-4
yang artinya : “Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
***

